Kata miskin dah ndak asing lagi di telinga kita. bahkan mungkin miskin sudah menjadi suatu penyakit keseharian dan itu menurun (jangan sampe deh). Kadang orang lain berpikir agar kita jgn miskin, tapi justru kita sendiri nggak ada keinginan untuk mengobat penyakit miskin tersebut. bagi pemerintah miskin adalah suatu hal yang harus diberantas.
nah bagi kita sendiri gimana, mau nggak membrantasnya. ada beberapa hal yang mungkin menyebabkan penyakit miskin ini mewabah dan terus menjangkiti masyarakat kita.
Survey mengatakan bahwa lebih 85 % perokok adalah orang miskin. pendapat ini mungkin sebaliknya bahwa orang miskin itu disebabkan oleh rokok. kenapa begitu? secara matematika, perokok biasaya menghabiskan 2 bungkus perhati (2 x 6500=13000/hari = 390000/bulan). itu sama dengan gaji guru tidak tetap sebulan. Nah angka yang cukup lumayan besar kan dan jika dihitung untuk satu tahun berarti 4.680.000,- wow cukup donk buat beli motor bebek untuk ojekan. eh ada yang udah merokok sampe 10 tahun, wih kalo yang gitu artinya dah 46.800.000,- cukup buat bayar beli Kijang Grand loo.
tapi kok duit segitu dibakar, jadi asap dan kita tetap miskin. coba bayangkan ketika anak
lahir kita mulai nabung buat anak, misalnya kita stop merokok 1 bungkus perhari uang
yang satu bungkusnya di tabung untuk masa depan anak, yang artinya jika anak selesai
sekolah usia 18 tahun dia udah punya modal Rp. 84.240.000,- nah ini bisa buat modal si anak
maka penyakit miskin dah bisa kita singkirkan dalam hidup kita. betul ndaakk
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.